Selasa, 13 April 2021

Loveable and Adorable Person

Sebenarnya gue tidak tahu harus mulai dari mana untuk cerita ini karena alasan terbesarnya itu hanya gue dengan pikiran gue yang tidak mau diam. Mungkin juga karena gue jarang melihat ini sehingga menjadi memorable moments.

Ya, harus gue akui tidak ada manusia yang sempurna. Cuma, karena momen tersebut gue jadi berpikir kembali bahwa benar manusia tidak ada yang sempurna, tetapi ada sebagian kecil manusia yang sangat lovable dan adorable. Setiap hal yang mereka lakukan itu menyenangkan hawanya.

Yes, loveable and adorable. These words I choose to describe this memorable moment. 

Begini, sebagai orang yang sering mempertanyakan dan meragukan banyak hal sebagai pertahanan diri, gue sangat tersanjung.

Wow, this person really showed love and sparked joy to everyone around her. How can you do it without hesitation? What did you do in the past to get this much love? But I know you really deserve it. 

Gue bertanya hal itu di dalam hati.

Namun, setelah berpikir panjang dan mengingat rentetan kejadian beberapa waktu lalu, mungkin ini yang dinamakan apa yang ditabur, itulah yang dituai. Banyak cinta, perhatian, kasih sayang, dan usaha yang dilakukan orang ini.

Atau sebenarnya orang-orang ini hanya ini memberikan yang terbaik, ya? Terlepas kecewa yang sebenarnya selalu mengikuti. Tidak ragu untuk menunjukkan kasih sayang sepenuhnya ketika banyak orang enggan melakukannya? Sehingga dibayar dengan banyak cinta dari orang sekelilingnya?

Di sisi lain kejadian ini, gue menyadari suatu hal. Memang akan menyenangkan apabila bertemu seseorang dengan love language yang sama. Ini bukan hanya soal romantisme, tetapi semua hubungan. The spark is real and we will know what true love is.

Meskipun suatu hubungan itu pada hakikatnya milik orang yang menjalankan, ya. Jangan repot-repot untuk peduli apa kata orang. Even if you have a different love language with your partner and relatives, if you stick to it well, it will work.

Minggu, 21 Maret 2021

#2 Kedai Kopi dan Memori


Aku mengagumi sosok itu. Si pekerja keras tak kenal gengsi yang pandai bersosialisasi. Lelaki dengan banyak mimpi yang selalu paham bagaimana mengatasi banyak situasi.

Mengingat hari saat aku dan dirinya sibuk bertukar pesan untuk berbagi kisah. Mengeluh hal-hal tak penting hingga ide konyolnya yang mengundang tawa. Tak jarang kantuk kutahan agar tetap mendengar suaranya.

Mengingat hari saat aku tak kuasa menganggukkan kepala saat dirinya bertanya apakah aku bersedia untuk menjadi kekasihnya saat di bangku kuliah.

***

"Kita ke pergi ke sini, yuk!"
"Tiba-tiba?"
"Besok jam 7 pagi gue jemput, ya!"
"Dasar gila!"

Begitulah kira-kira percakapan di Sabtu malam sebelum memejamkan mata. Kukatakan dirinya gila sedang kubereskan beberapa perlengkapan di pagi buta untuk perjalanan yang tiba-tiba. Diklaksokan mobil tanda ia sudah tiba. Kuturuni anak tangga dengan langkah besar dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ia pasang senyuman sambil menyalipkan rambutku ke belakang telinga.

"Berapa lama perjalanannya?"
"Dua sampai tiga jam, mungkin?"
"Oke. Refreshing setelah ujian."
"Let's go?"
"Let's go!"

Perjalanan tiba-tiba ini menjadi ajang karaoke dadakan. Puluhan lagu dilantunkan dan dengarkan. Sambil sesekali ia daratkan kecupan di punggung tanganku saat dalam genggaman. Kuhabiskan waktu bersamanya di antah berantah. Sebuah tempat yang masih belum terjamah. Berendam dan berenang sesuka hati dalam kolam seakan-akan di rumah.

***

Mengingat hari menyenangkan saat tawa tiada habisnya. Mengeluhkan betapa aneh tingkah laku hewan peliharaannya. Kumerindukan sosok yang telah menemaniku tiga tahun lamanya. Kini hanya satu atau dua kalimat yang tertukar. Beberapa ucapan menyambut pagi atau menutup malam. Sesekali membahas siang dengan sukar.

***

Kulangkahkan kaki menuju teman-temanku yang lebih dulu sampai. Melepas rindu yang tertahan karena semua sibuk dengan tugas yang tak kunjung usai. Membahas apapun hingga berandai-andai. Semua membahagiakan sampai pertanyaan itu tiba. Bagai dilempar batu tepat di dada.

"Iya, kedai kopi itu enak, sih. Cuma masih ramai. Ya, kan? Kemarin malam dia ke sana, tuh, sama pacarnya."

Tertegun saat sadar bahwa akulah yang menjadi topik pembicaraan saat tangan temanku menyolek lengan yang kusandarkan di meja. Kulemparkan senyum sebagai jawaban, persetujuan, juga kebingungan.

Tersadar akan kenyataan tentang sebuah dusta lelaki kemarin malam yang membawa kabar bahwa dirinya masih di luar kota.

Rabu, 17 Maret 2021

Angin dan Harapan

Begini, rasanya itu seperti harus keluar rumah dan berjalan di jalan yang penuh sampah dan duri. Belum juga melangkahkan kaki, rasanya sudah lelah.

Padahal, saya juga tidak sendiri. Banyak manusia yang harus menempuh perjalanan yang lebih buruk dari ini. Meskipun begitu, saya tetap boleh mengeluh, 'kan?

Saya harus berjalan sekaligus membersihkan pun berhati-hati. Salah-salah, saya bisa tersungkur dan kesakitan. Saya tidak mau merasakan sakit dua kali.

Kau tahu? Perjalanan ini akan lebih ringan kalau saja ada yang membantu saya membersihkan sampah dan menyingkirkan duri. Ah, andai saja.

Terkadang saya iri. Saya melihat orang lain berjalan dengan mudah karena banyak orang yang membantu menyingkirkan sampah dan duri tersebut. 

Namun, kenapa jalan yang saya lalui harus begitu suram? Meskipun saya optimis bahwa terang di ujung jalan sana adalah hadiah yang akan saya dapatkan.

"Hey, bolehkah saya berada di posisimu sebentar? Saya ingin tahu rasanya tersenyum menatap jalanan yang akan saya lalui. Bukan lesu dan tarikan napas yang panjang setiap kali ingin melangkah."

Terkadang saya ingin menyerah. Biarlah angin membawa saya ke mana pun. Saya pasrah. Namun, saya teringat sesuatu. Beberapa hal di ujung jalan seolah mengatakan untuk tidak menyerah. Sedikit lagi.

Kau tahu? Setelah berjalan terseok-seok sampai ke ujung jalan, saya teringat kembali tentang jalan pulang. Rasanya sesak lagi. Tahu kalau sampah dan duri itu masih tetap kembali.

Jika tidak ada manusia yang dapat membantu menyingkirkannya, saya berharap angin segera membawa sampah dan duri tersebut pergi. Agar perjalanan saya jauh lebih ringan.

Biarlah batu dengan jalan sedikit berlubang yang menemani perjalanan saya. Itu cukup. Ya, angin? Kau dengar, 'kan?

Kamis, 04 Maret 2021

Mencari Jawaban

Menurutku,
Karena manusia itu dinamis
Bergerak, berubah
Pun perasaannya

Namun,
Aku mulai tahu
Aku mulai paham
Perbedaannya bisa dirasakan

Apa perasaan itu menjadi maju
Apa perasaan itu menjadi mundur
Tak berhenti di sana
Kecepatannya pun bisa dihitung

Ya,
Pun bisa aku keliru
Perhitungan tak tepat
Yang dirasa menjadi ragu

Kalau kau ingin lebih yakin
Coba kau peluklah
Tatap matanya
Barangkali ada jawaban lain di sana

Minggu, 28 Februari 2021

Jalanin Perlahan Juga Tidak Masalah, Kok!

Gue memberikan judul ini karena teringat masa-masa mengerjakan skripsi. Setelah gue pikir-pikir, hidup gue agak lambat. Gue lulus 4,5 tahun. Molor dari rencana gue yang ingin lulus tepat waktu. 

Meskipun terdengar seperti butterfly effect, gue mensyukuri banyak hal atas terlambatnya kelulusan gue. Setelah resmi sendirian di kos, gue jadi lebih banyak main sama teman-teman gue yang lain.

Gue merasakan juga keseruan menginap di kontrakan teman, menghabiskan waktu di kedai kopi hampir setiap malam, hingga rencana dadakan main ke luar Malang. Kenapa gue mensyukuri hal ini? Karena sebagian besar teman gue perempuan dan all of us berada di zona nyaman yang sama.

Ya, itu sebagai contoh kalau tidak semua hal yang berjalan tidak sesuai rencana itu buruk. Kita bisa mengubah cara pandang terhadap sesuatu. Karena, kalau saja gue terus merasa putus asa (meskipun sempat), gue mungkin akan melewatkan hal-hal menyenangkan itu.

Setelah lulus dan kembali ke Jakarta sebagai fresh graduate, gue bisa magang di salah satu E-Commerce besar di Infonyaa. Senang? Oh, tentu. Meskipun demikian, setelah masa magang habis, gue mulai panik.

Gue harus cepat dapat kerja full time. Ini yang seharusnya dilakukan seorang fresh graduate. Dapat kerja.

Gue sempat tertekan yang membuat gue tidur jam 3 pagi dan bangun pukul 7 pagi. Apa yang langsung gue lakuin ketika bangun tidur? Melamar kerja.

Gue sempat wawancara, kok, dengan beberapa perusahaan. Ada yang ditolak, ada yang tidak sesuai dengan nilai yang gue yakini sehingga gue tolak, dan lainnya.

Ya, gue pernah menolak juga beberapa pekerjaan karena tidak cocok dengan nilai yang diyakini. (Gue terdengar visioner, tetapi masih pakai perasaan juga). *sigh*

Akhirnya, gue magang di salah satu media online di Indonesia. Ya, setidaknya gue punya pemasukan. Masalahnya, gue tahu kalau kemungkinan diangkat menjadi karyawan itu kecil. Soalnya banyak anak magang yang sudah lebih dari 6 bulan di sana.

But here's the thing. Gue ingat dan catat dalam hati. Jenis pekerjaan apa yang gue mau, rencana pekerjaan kalau sekiranya yang gue pengin tidak tercapai, apa saja toleransi gue terhadap keadaan, berapa lama gue harus menjadi idealis, dan lainnya.

Hal-hal ini juga yang membuat gue menolak beberapa pekerjaan. Tidak sesuai dengan perhitungan yang sudah gue punya. Btw, gue pengin bilang kalau gue punya sedikit privilege; tidak dituntut orang tua untuk segera mendapat kerja dan membiayai keperluan rumah.

Dua minggu menganggur sejak magang di media online, salah satu kompetitor E-Commerce tempat gue magang di awal tahun menghubungi gue. Kalian tahu? Di sini gue lagu proses melamar pekerjaan di tempat teman gue.

Apa rasanya ada full time di depan mata, tetapi tawaran intern di perusahaan besar dengan reputasi oke menghampiri? Gue pernah kehilangan dua kesempatan sekaligus. Gue tidak akan mengulanginya lagi.

Akhirnya gue bilang ke orang tua gue kalau gue lagi proses wawancara di perusahan tempat teman gue bekerja, tetapi gue juga mendapat tawaran intern di perusahaan besar. Gue akan pilih yang memberi kabar paling pertama.

Ternyata gue dinyatakan diterima sebagai intern. Besok, perusahaan teman gue memberi kabar bahwa gue lolos ke tahap terakhir. But I already make a promise and decision.

Gue pun berjanji ini menjadi magang terakhir. Sudah saatnya gue mencari pekerjaan full time. Teman gue pun sudah memberi label pada diri gue sebagai spesialis internship. Sungguh. (But, all those internships membawa banyak pengaruh baik ke setiap wawancara yang gue lakukan, loh!)

Dua minggu terakhir magang, gue memberanikan diri untuk bertanya tentang kesempatan untuk gue berkarir di sana. Kesempatan itu pun datang setelah penantian panjang.

Gue bersyukur banget. Perjalanan gue yang tidak sebentar ini akhirnya membuahkan hasil. Ya, meskipun perjalanan ini akan sangat panjang. Ini baru permulaan.

Gue sadar, kalau saja kemarin gue buru-buru, kalau saja gue tidak pakai perhitungan, kalau saja gue asal menerima, gue tidak bisa membayangkan, sih.

Akhirnya gue paham pentingnya berlaju dengan persiapan, berlaju dengan matang, berlaju dengan banyak rencana. Pun gue sedang tidak berlomba-lomba dengan siapapun.

Gue hanya berlomba dengan ketakutan akan ketinggalan, berlomba dengan pencapaian seseorang yang sebenarnya gue juga tidak tahu kerasnya jalan yang dia lewatkan, atau berlomba untuk mendapat pengakuan. Entah.

Dear self, selamat menempuh perjalanan baru. Fighting!